Kamis, 18 Oktober 2012

Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) Plus Sebagai Upaya Mewujudkan Belajar Fisika Gasing


A.  Judul Penelitian
Implementasi Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) Plus Sebagai Upaya Mewujudkan Belajar Fisika Gasing

B.  Bidang Kajian

Desain dan Strategi Pembelajaran di Kelas

C.  Latar Belakang Masalah

Kurikulum Fisika disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, khususnya pendidikan fisika. Peningkatan mutu pendidikan diyakini dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas. Sumber daya manusia berkualitas diperlukan untuk dapat menghadapi tantangan di era globalisasi ini yang penuh dengan perubahan tidak menentu. Berbagai kebijakan yang sedang dan telah dilakukan pemerintah melalui jalur pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Beberapa kebijakan yang menonjol antara lain:  dalam bidang manajeman pendidikan, yaitu desentralisasi pendidikan (melalui program manajeman pendidikan berbasis sekolah), dalam bidang kurikulum, yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dalam proses pembelajaran ada program percepatan belajar (learning acceleration), dan dalam bidang profesional, yaitu mensertifikasi guru-guru untuk menjadi tenaga profesional, serta diimbangi dengan meningkatkan kesejahteraan taraf kehidupan guru (Dantes, 2007(a):2; 2007 (b):8) . Namun, secara umum dengan jujur harus kita akui bahwa pendidikan Indonesia masih berada jauh di belakang negara-negara maju dan berkembang di dunia. Hal ini tercermin dari hasil survei yang menunjukkan human development index (HDI), Indonesia berada diperingkat 112 dari 116 negara (Sobry, 2006).
Secara khusus, berbagai upaya juga telah dilakukan pemerintah untuk menigkatkan mutu pendidikan fisika di Indonesia diantarnya: pengembangan model-model pembelajaran fisika, pengembangan media pembelajaran fisika, penataran guru-guru fisika, penyediaan sarana-prasarana yang menunjang pembelajaran fisika, dan pelatihan-pelatihan bagi siswa dan guru fisika (Depdiknas, 2004; Mustika, 2007; Ida, 2008). Akan tetapi, semua hal tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal. Sebagai contoh, berdasarkan refleksi terhadap hasil belajar siswa di kelas X KJ1 SMK Negeri 1 Denpasar, ternyata belum sesuai dengan harapan. Hal ini tercermin dari nilai rata-rata tes sumatif dan ketuntasan yang diperoleh pada semester 2 tahun pelajaran 2007/2008, nilai rata-rata tes sumatif siswa hanya mencapai 5,5 dan ketuntasan klasikal (KK) baru mencapai 65% (Arsip Nilai Siswa SMK Negeri 1 Denpasar).
Berdasarkan refleksi diri, khususnya terhadap pembelajaran yang dilakukan pada semester 1 di kelas X KJ1 SMK Negeri 1 Denpasar terungkap beberapa permasalahan yang teridentifikasi sebagai faktor penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap pelajaran fisika yaitu sebagai berikut.
1)      Siswa kurang tertarik belajar fisika. Hal ini terlihat dari aktivitas belajar siswa yang kurang semangat. Hasil wawancara dengan siswa, mengungkapkan bahwa kekurang tertarikan mereka ternyata disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap manfaat yang mereka peroleh dari belajar fisika. Hal ini dapat dimaklumi karena selama ini pembelajaran yang dilakukan kurang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa.  
2)      Berdasarkan hasil wawancara, secara umum siswa mempunyai anggapan bahwa fisika adalah pelajaran sulit. Hal ini sudah menjadi fenomena umum bahwa pelajaran fisika merupakan salah satu pelajaran yang sulit dan banyak ditakuti dikalangan siswa, termasuk  siswa di SMK Negeri 1 Denpasar, khususnya kelas X KJ1. Siswa-siswa seperti ini beranggapan bahwa fisika hanya untuk orang pintar. Mereka merujuk, bahwa siswa yang berhasil pada ajang kompetensi internasional adalah orang-orang genius. Hal ini diperparah lagi dengan penyajian yang diterapkan selama ini lebih berfokus pada upaya menyelesaikan soal-soal fisika dengan rumus-rumus yang ”nyelimet”. Dari hasil ini, terungkap bahwa letak kesulitan siswa belajar fisika, karena mereka harus menggunakan rumus-rumus dalam belajar fisika.
3)      Sebagian besar siswa berpendapat fisika pelajaran yang membosankan, karena selalu berkutat dengan materi yang penuh dengan rumus-rumus. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar fisika yang selalu monotun dengan mengerjakan soal-soal, tanpa tahu proses dengan terlibat langsung sebagai subjek dalam pembelajaran, menyebabkan mereka jenuh.
4)      Berdasarkan pengamatan, sejumlah siswa tampak belum memiliki persepsi yang positif belajar fisika. Persepsi negatif yang timbul dikalangan siswa terhadap pelajaran fisika, ternyata disebabkan oleh kurangnya penghargaan dan penekanan guru terhadap kemajuan-kemajuan yang dicapai siswa dalam belajar.
Berdasarkan uraian tersebut, sebagai tenaga pendidik, khususnya guru yang memegang mata pelajaran fisika, tentu kita tidak hanya berpangku tangan melihat fenomena tersebut. Dengan kata lain, kita harus mengupayakan agar menjadikan pelajaran fisika tidak menjadi momok dan menakutkan di mata siswa. Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam pengkajian materi pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pelajaran Fisika, yaitu: mengaitkan materi pelajaran (konten) dengan kehidupan sehari-hari (konteks),  membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran, memfasilitasi siswa untuk berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya, menyelesaikan soal-soal fisika dengan menggunakan logika serta menghindari rumus matematika yang rumit, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih menguatkan pemahamannya terhadap konsep-konsep yang dikaji. Pemahaman ini memerlukan minat, gairah, dan motivasi belajar. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Tanpa adanya gairah menandakan siswa tidak mempunyai semangat untuk belajar (Zahera, 2000).  Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.

Berdasarkan uraian di atas, salah satu model pembelajaran yang relevan, yaitu model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus. implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus yang dimaksudkan adalah dalam pembelajarannya menggunakan langkah-langkah pembelajaran kuantum dan dalam menyelesaikan masalah-masalah fisika dengan menggunakan nalar (logika fisika) dan tidak menggunakan rumus yang rumit, seperti yang lumrah digunakan. Penulis memilih pembelajaran ini, dengan tujuan mengkondisikan siswa untuk terbiasa menemukan, mencari, mendiskusikan, dan memecahkan masalah dengan menggunakan logika yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Dengan demikian siswa diharapkan lebih mudah dan asyik dalam belajar fisika. Dalam implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus siswa lebih aktif dalam memecahkan masalah berdasarkan logika fisika, sedangkan guru berperan sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk cara memecahkan masalah itu.
Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Surya (2008), sebagai pembina siswa-siswa Indonesia untuk berlaga di Olympiade Internasional, salah satu yang menyebabkan siswa-siswa kita berhasil berprestasi di tingkat dunia, karena siswa-siswa tersebut dibekali keterampilan konsep berpikir, bukan dijejali dengan rumus-rumus. Hal ini perlu kita jadikan contoh, untuk mengubah image pelajaran fisika sulit dan membosankan menjadi pelajaran yang gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
Untuk mengubah paradigma fisika itu sulit, tentu tidak mudah. Namun, hal ini perlu kita upayakan, khususnya guru pengasuh mata pelajaran Fisika. Guru sebagai ujung tombak dalam pembaharuan pembelajaran tentu harus melakukan ini, tanpa ada perubahan strategi pembelajaran yang diterapkan guru tentu perubahan ini tidak akan terwujud.
Melalui strategi pembelajaran Fisika yang mengutamakan nalar dan meminimalkan rumus ini diharapkan wajah fisika di Indonesia dapat berubah, dari yang sulit, menakutkan, dan membosankan menjadi gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “ Implementasi Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) Plus Sebagai Upaya Mewujudkan Belajar Fisika Gasing.”

D. Rumusan dan Pemecahan Masalah

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
1)      Apakah implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus dapat mewujudkan belajar fisika gampang?
2)      Apakah implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus dapat mewujudkan belajar fisika asyik?
3)      Apakah implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus dapat mewujudkan belajar fisika menyenangkan?

2.  Pemecahan Masalah
           
Berdasarkan uraian masalah dan rumusan masalah di atas, akan dipecahkan dengan mengimplementasikan model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus. Pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus, yaitu suatu model pembelajaran yang terdiri dari 6 fase sebagai berikut:
1)      Fase tumbuhkan, yaitu menumbukan minat dan motivasi belajar siswa
2)      Fase alami, yaitu memberikan siswa kesempatan mengalami sendiri proses pembelajaran plus mnggunakan logika fisika dalam menyelesaikan soal-soal fisika
3)      Fase namai, yaitu memberikan makna dan kata kunci dari apa yang dilakukan
4)      Fase demonstrasikan, yaitu menunjukkan hasil yang telah dicapai dan memecahkan masalah dengan menggunakan nalar (logika)
5)      Fase ulangi, yaitu memberikan kesempatan untuk mengulang kembali konsep-konsep yang dipelajari dengan menekankan pemecahan soal-soal fisika menggunakan logika
6)      Fase rayakan, yaitu memberikan pujian dan persepsi yang positif.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1)      Untuk mewujudkan belajar fisika gampang melalui implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus.
2)      Untuk mewujudkan belajar fisika asyik melalui implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus.
3)      Untuk mewujudkan belajar fisika menyenangkan melalui implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus.
2.  Manfaat Hasil Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Bagi Siswa
a)      Melalui fase tumbuhkan, siswa memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan pengetahuan awal yang dimilikinya sebagai pijakan dalam mengkonstruksi pengetahuan baru, memberikan rasa puas AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu) pada diri siswa dengan cara mengaitkan materi dengan situasi nyata siswa, sehingga siswa dapat menangkap makna dari materi yang dipelajari. Melalui fase rayakan, dengan memberikan persepsi yang menyenangkan dan menghargai usaha yang dilakukan siswa akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa.
b)      Melalui fase alami, siswa memperoleh kesempatan untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dengan mengalami sendiri apa yang mereka pelajari melalui demonstrasi dan memecahkan soal-soal fisika dengan menggunakan logika fisika. Melalui fase demonstrasikan, siswa memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengkonstruksi makna dengan mempresentasikan hasil kinerjanya dan mendiskusikan dengan teman lain. Dengan demikian,  nantinya bermuara pada keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah fisika dengan menggunakan nalar.
c)      Melalaui fase namai, siswa memperoleh kesempatan untuk menguatkan konsep yang telah dimiliki dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. Selanjutnya, melalui fase ulangi, siswa mendapatkan kesempatan untuk memantapkan konsep-konsep yang dimiliki siswa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih diri menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan materi yang dikaji dengan menggunakan logika. 
2) Bagi Guru
a)      Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam memilih pembelajaran inovatif dalam upaya menciptakan suasana belajar yang kondusif yang memungkinkan timbulnya gairah belajar siswa terhadap pembelajaran fisika yang pada akhirnya dapat membantu siswa memahami konsep materi yang dikaji.
b)      Penggunaan model pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus akan memperdalam wawasan baru bagi guru sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan semangat belajar, dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran yang bermuara pada sikap menyenangkan siswa terhadap pelajaran fisika. Membantu guru menjadi kreatif dalam memformat pembelajaran, menyiapkan perencanaan pembelajaran yang berorientasi kehidupan nyata siswa, yang menjadikan fisika itu gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
3) Bagi Sekolah
a)      Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk mengajak siswa belajar fisika menjadi gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
b)      Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif pada pembelajaran fisika, juga diharapkan dapat dikembangkan dalam pembelajaran bidang studi lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar