A.
Judul Penelitian
Implementasi Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) Plus
Sebagai Upaya Mewujudkan Belajar Fisika Gasing
B. Bidang
Kajian
Desain dan Strategi Pembelajaran di Kelas
C. Latar Belakang Masalah
Kurikulum Fisika disempurnakan
untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, khususnya pendidikan fisika.
Peningkatan mutu pendidikan diyakini dapat menghasilkan sumber daya manusia
berkualitas. Sumber daya manusia berkualitas diperlukan untuk dapat menghadapi
tantangan di era globalisasi ini yang penuh dengan perubahan tidak menentu. Berbagai
kebijakan yang sedang dan telah dilakukan pemerintah melalui jalur pendidikan
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Beberapa kebijakan yang
menonjol antara lain: dalam bidang
manajeman pendidikan, yaitu desentralisasi pendidikan (melalui program manajeman
pendidikan berbasis sekolah), dalam bidang kurikulum, yaitu kurikulum tingkat
satuan pendidikan yang berbasis kompetensi (KTSP) yang merupakan penyempurnaan
dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dalam proses pembelajaran ada program
percepatan belajar (learning acceleration), dan dalam bidang
profesional, yaitu mensertifikasi guru-guru untuk menjadi tenaga profesional,
serta diimbangi dengan meningkatkan kesejahteraan taraf kehidupan guru (Dantes,
2007(a):2; 2007 (b):8) . Namun, secara umum dengan jujur harus kita akui bahwa
pendidikan Indonesia masih berada jauh di belakang negara-negara maju dan
berkembang di dunia. Hal ini tercermin dari hasil survei
yang menunjukkan human development index (HDI), Indonesia berada diperingkat
112 dari 116 negara (Sobry, 2006).
Secara khusus, berbagai upaya juga telah dilakukan
pemerintah untuk menigkatkan mutu pendidikan fisika di Indonesia diantarnya: pengembangan
model-model pembelajaran fisika, pengembangan media pembelajaran fisika,
penataran guru-guru fisika, penyediaan sarana-prasarana yang menunjang
pembelajaran fisika, dan pelatihan-pelatihan bagi siswa dan guru fisika
(Depdiknas, 2004; Mustika, 2007; Ida, 2008). Akan tetapi, semua hal tersebut
belum menunjukkan hasil yang optimal. Sebagai contoh, berdasarkan refleksi
terhadap hasil belajar siswa di kelas X KJ1 SMK Negeri 1 Denpasar,
ternyata belum sesuai dengan harapan. Hal ini tercermin dari nilai rata-rata tes
sumatif dan ketuntasan yang diperoleh pada semester 2 tahun pelajaran 2007/2008,
nilai rata-rata tes sumatif siswa hanya mencapai 5,5 dan ketuntasan klasikal
(KK) baru mencapai 65% (Arsip Nilai Siswa SMK Negeri 1 Denpasar).
Berdasarkan refleksi diri, khususnya terhadap
pembelajaran yang dilakukan pada semester 1 di kelas X KJ1 SMK
Negeri 1 Denpasar terungkap beberapa permasalahan yang teridentifikasi sebagai
faktor penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap pelajaran fisika yaitu
sebagai berikut.
1) Siswa kurang tertarik belajar fisika. Hal ini terlihat dari
aktivitas belajar siswa yang kurang semangat. Hasil wawancara dengan siswa,
mengungkapkan bahwa kekurang tertarikan mereka ternyata disebabkan oleh
ketidaktahuan mereka terhadap manfaat yang mereka peroleh dari belajar fisika. Hal ini dapat dimaklumi karena selama ini pembelajaran
yang dilakukan kurang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa.
2) Berdasarkan hasil wawancara, secara umum siswa
mempunyai anggapan bahwa fisika adalah pelajaran sulit. Hal ini sudah menjadi fenomena
umum bahwa pelajaran fisika merupakan salah satu pelajaran yang sulit dan banyak
ditakuti dikalangan siswa, termasuk siswa
di SMK Negeri 1 Denpasar, khususnya kelas X KJ1. Siswa-siswa seperti
ini beranggapan bahwa fisika hanya untuk orang pintar. Mereka merujuk, bahwa
siswa yang berhasil pada ajang kompetensi internasional adalah orang-orang
genius. Hal ini diperparah lagi dengan penyajian yang diterapkan selama ini
lebih berfokus pada upaya menyelesaikan soal-soal fisika dengan rumus-rumus
yang ”nyelimet”. Dari hasil ini, terungkap bahwa letak kesulitan siswa belajar
fisika, karena mereka harus menggunakan rumus-rumus dalam belajar fisika.
3) Sebagian besar siswa berpendapat fisika
pelajaran yang membosankan, karena selalu berkutat dengan materi yang penuh
dengan rumus-rumus. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar fisika yang
selalu monotun dengan mengerjakan soal-soal, tanpa tahu proses dengan terlibat
langsung sebagai subjek dalam pembelajaran, menyebabkan mereka jenuh.
4) Berdasarkan pengamatan, sejumlah siswa
tampak belum memiliki persepsi yang positif belajar fisika. Persepsi negatif yang
timbul dikalangan siswa terhadap pelajaran fisika, ternyata disebabkan oleh
kurangnya penghargaan dan penekanan guru terhadap kemajuan-kemajuan yang
dicapai siswa dalam belajar.
Berdasarkan uraian tersebut,
sebagai tenaga pendidik, khususnya guru yang memegang mata pelajaran fisika,
tentu kita tidak hanya berpangku tangan melihat fenomena tersebut. Dengan kata
lain, kita harus mengupayakan agar menjadikan pelajaran fisika tidak menjadi
momok dan menakutkan di mata siswa. Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran salah satunya adalah
dengan memilih strategi atau cara dalam pengkajian materi pelajaran agar
diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pelajaran Fisika, yaitu:
mengaitkan materi pelajaran (konten) dengan kehidupan sehari-hari (konteks), membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat
aktif dalam proses pembelajaran, memfasilitasi siswa untuk berkembang sesuai dengan
taraf intelektualnya, menyelesaikan soal-soal fisika dengan menggunakan logika
serta menghindari rumus matematika yang rumit, dan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk lebih menguatkan pemahamannya terhadap konsep-konsep yang dikaji. Pemahaman
ini memerlukan minat, gairah, dan motivasi belajar. Tanpa adanya minat
menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Tanpa adanya
gairah menandakan siswa tidak mempunyai semangat untuk belajar (Zahera, 2000). Untuk itu, guru harus memberikan suntikan
dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari
kesulitan belajar.
Berdasarkan uraian di atas,
salah satu model pembelajaran yang relevan, yaitu model pembelajaran kuantum (quantum
teaching) plus. implementasi model pembelajaran kuantum (quantum
teaching) plus yang dimaksudkan adalah dalam pembelajarannya
menggunakan langkah-langkah pembelajaran kuantum dan dalam menyelesaikan
masalah-masalah fisika dengan menggunakan nalar (logika fisika) dan tidak
menggunakan rumus yang rumit, seperti yang lumrah digunakan. Penulis
memilih pembelajaran ini, dengan tujuan mengkondisikan siswa untuk terbiasa
menemukan, mencari, mendiskusikan, dan memecahkan masalah dengan menggunakan
logika yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Dengan demikian siswa
diharapkan lebih mudah dan asyik dalam belajar fisika. Dalam implementasi model
pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus siswa lebih aktif
dalam memecahkan masalah berdasarkan logika fisika, sedangkan guru berperan
sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk cara memecahkan masalah itu.
Hal ini sesuai dengan apa yang
diungkapkan oleh Surya (2008), sebagai pembina siswa-siswa Indonesia untuk
berlaga di Olympiade Internasional, salah satu yang menyebabkan siswa-siswa
kita berhasil berprestasi di tingkat dunia, karena siswa-siswa tersebut
dibekali keterampilan konsep berpikir, bukan dijejali dengan rumus-rumus. Hal
ini perlu kita jadikan contoh, untuk mengubah image pelajaran fisika sulit dan
membosankan menjadi pelajaran yang gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
Untuk mengubah paradigma
fisika itu sulit, tentu tidak mudah. Namun, hal ini perlu kita upayakan,
khususnya guru pengasuh mata pelajaran Fisika. Guru sebagai ujung tombak dalam
pembaharuan pembelajaran tentu harus melakukan ini, tanpa ada perubahan
strategi pembelajaran yang diterapkan guru tentu perubahan ini tidak akan
terwujud.
Melalui strategi pembelajaran
Fisika yang mengutamakan nalar dan meminimalkan rumus ini diharapkan wajah
fisika di Indonesia dapat berubah, dari yang sulit, menakutkan, dan membosankan
menjadi gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
Berdasarkan latar belakang
masalah di atas, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “
Implementasi Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) Plus Sebagai
Upaya Mewujudkan Belajar Fisika Gasing.”
D. Rumusan dan Pemecahan
Masalah
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
1)
Apakah implementasi model
pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus dapat mewujudkan belajar
fisika gampang?
2)
Apakah implementasi model
pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus dapat mewujudkan
belajar fisika asyik?
3)
Apakah implementasi model
pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus dapat mewujudkan
belajar fisika menyenangkan?
2. Pemecahan Masalah
Berdasarkan uraian masalah dan rumusan masalah di atas,
akan dipecahkan dengan mengimplementasikan model pembelajaran kuantum (quantum
teaching) plus. Pembelajaran kuantum (quantum teaching) plus,
yaitu suatu model pembelajaran yang terdiri dari 6 fase sebagai berikut:
1) Fase tumbuhkan, yaitu menumbukan minat dan
motivasi belajar siswa
2) Fase alami, yaitu memberikan siswa kesempatan
mengalami sendiri proses pembelajaran plus mnggunakan logika fisika dalam
menyelesaikan soal-soal fisika
3) Fase namai, yaitu memberikan makna dan
kata kunci dari apa yang dilakukan
4) Fase demonstrasikan, yaitu menunjukkan
hasil yang telah dicapai dan memecahkan masalah dengan menggunakan nalar
(logika)
5) Fase ulangi, yaitu memberikan kesempatan
untuk mengulang kembali konsep-konsep yang dipelajari dengan menekankan
pemecahan soal-soal fisika menggunakan logika
6) Fase rayakan, yaitu memberikan pujian dan
persepsi yang positif.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah
di atas, tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1)
Untuk mewujudkan belajar fisika
gampang melalui implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching)
plus.
2)
Untuk mewujudkan belajar fisika
asyik melalui implementasi model pembelajaran kuantum (quantum teaching)
plus.
3)
Untuk mewujudkan belajar fisika
menyenangkan melalui implementasi model pembelajaran kuantum (quantum
teaching) plus.
2. Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1) Bagi Siswa
a) Melalui fase tumbuhkan, siswa
memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan pengetahuan awal yang dimilikinya
sebagai pijakan dalam mengkonstruksi pengetahuan baru, memberikan rasa puas
AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu) pada diri siswa
dengan cara mengaitkan materi dengan situasi nyata siswa, sehingga siswa dapat
menangkap makna dari materi yang dipelajari. Melalui fase rayakan,
dengan memberikan persepsi yang menyenangkan dan menghargai usaha yang
dilakukan siswa akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa.
b) Melalui fase alami, siswa
memperoleh kesempatan untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dengan mengalami
sendiri apa yang mereka pelajari melalui demonstrasi dan memecahkan soal-soal
fisika dengan menggunakan logika fisika. Melalui fase demonstrasikan,
siswa memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengkonstruksi
makna dengan mempresentasikan hasil kinerjanya dan mendiskusikan dengan teman
lain. Dengan demikian, nantinya bermuara
pada keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah fisika dengan menggunakan
nalar.
c) Melalaui fase namai, siswa
memperoleh kesempatan untuk menguatkan konsep yang telah dimiliki dalam proses
pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. Selanjutnya, melalui fase ulangi,
siswa mendapatkan kesempatan untuk memantapkan konsep-konsep yang dimiliki
siswa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih diri
menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan materi yang dikaji dengan
menggunakan logika.
2) Bagi Guru
a)
Penelitian ini dapat digunakan
sebagai salah satu alternatif dalam memilih pembelajaran inovatif dalam upaya
menciptakan suasana belajar yang kondusif yang memungkinkan timbulnya gairah
belajar siswa terhadap pembelajaran fisika yang pada akhirnya dapat membantu
siswa memahami konsep materi yang dikaji.
b)
Penggunaan model pembelajaran
kuantum (quantum teaching) plus akan memperdalam wawasan baru
bagi guru sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan semangat belajar,
dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran yang bermuara pada sikap menyenangkan
siswa terhadap pelajaran fisika. Membantu guru menjadi kreatif dalam memformat
pembelajaran, menyiapkan perencanaan pembelajaran yang berorientasi kehidupan
nyata siswa, yang menjadikan fisika itu gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
3) Bagi Sekolah
a)
Hasil penelitian ini dapat
digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk mengajak siswa
belajar fisika menjadi gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing).
b)
Hasil penelitian ini dapat
dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran yang
kreatif dan inovatif pada pembelajaran fisika, juga diharapkan dapat
dikembangkan dalam pembelajaran bidang studi lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar