Kamis, 18 Oktober 2012

EKSPLORASI GURU MENGUASAI PEMBELAJARAN INOVATIF BERBASIS ICT


  EKSPLORASI   GURU   MENGUASAI  PEMBELAJARAN INOVATIF BERBASIS ICT SEBAGAI TANTANGAN DALAM PEMBELAJARAN
DI SEKOLAH MENENGAH KEJUARUAN


Dampak  perkembangan zaman globalisasi dengan segala  perubahan  aspek kehidupan yang mendasar yaitu seberapa jauh pendidikan mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM)  kita dan jati diri bangsa dalam mengembangkan demokrasi serta memupuk persatuan bangsa ? 
 

             UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan yang berlaku di Indonesia senantiasa sebagai acuan untuk melangkah dalam mewujudkan mutu layanan pendidikan yang lebih baik.
            Guru sebagai insan yang profesional dan tak pernah mundur selangkahpun untuk memajukan pendidikan nasional.     Berawal  dari panggilan hati nurani sehingga akan tumbuh dan berkembang bagaikan batang yang kuat, kokoh, dan berbudaya.   Sudah tentu tidak terlepas dari komitmen, dedikasi tinggi untuk melaksanakan tugas yang mulia itu.        
Perubahan paradigma tentang SMK tetap bergulir seiring waktu   dan memiliki momentum yang tinggi untuk memajukan pendidikan   khususnya mutu pendidikan SMK. Pendidikan SMK pada akhirnya harus mampu menghasilkan tenaga – tenaga yang terampil (kompeten) dan  life skill sesuai bidang keahlian ditingkat menengah. Sudah  tentu  masyarakat  kedepan tidak masih memiliki asumsi bahwa mutu pendidikan lulusan SMK adalah nomor dua. Tentu, untuk merubah hal itu tidaklah gampang seperti membalikkan telapak tangan melainkan harus memiliki komitmen dan akuntabilitas pendukung yang tinggi.
             Tumbuh dan berkembang mutu pendidikan seperti akar rumput  sehingga dilakukan perbaikan secara terus menerus.  Pada kesempatan ini mari bersama kita sebagai pendidik semuanya   untuk  lebih akrab dengan internet sebagai pengembangan diri sebagai tantangan inovatif berbasis ICT dalam pembelajaran di SMK.    Peningkatan mutu pendidikan tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja tetapi tanggungjawab bersama.        Problematik pendidikan mencuat kepermukaan karena salah satu penyebab kondisi sosial ekonomi masyarakat  dari PSB sampai dengan standar biaya pendidikan. Pembelajaran SMK, mutu pendidikan dan pelatihan di SMK dapat tercapai apabila terjadi integrasi diantara komponen implementatif pendidikan yaitu  sisi  P-D-C-A ( Plan-Do-Check-Action) dan  tidak terlepas atau terintegrasi positif dari  dukungan internal,   eksternal dari masyarakat dan industri serta terjadinya perubahan budaya pendidikan di sekolah.   Dukungan Internal   dan  Eksternal selalu dibutuhkan dalam pengembangan sumberdaya sekolah  demikian juga  perubahan Budaya seperti   pola pikir dari Supply menjadi market oriented. 
     
             Pendidikan  kita masih terkesan sebagai pendidikan yang membelengu. Hal ini terjadi dari ketidakjelasan visi dan misi pendidikan kita, adanya praktik sentralisasi dan uniformitas,   kurang memperhatikan faktor hak – hak anak secara demokratis, kreatif dan inovatif. Apabila hal ini terus menerus terjadi, maka pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang stereotipik, intropek, penurut, tidak kreatif, bahkan memiliki ketergantungan tinggi. Namun bukan hal itu yang diinginkan. Pendidikan anak yang berwawasan integratif di harapkan pelaksanaan pembelajaran di SMK merupakan  pembelajaran berbasis kompetensi bertujuan untuk memenuhi program pembelajaran yang telah ditetapkan, sehingga tujuan  pembelajaran dapat tercapai dengan pengaturan sebagai berikut : (1) Pembelajaran di sekolah, (2) Pembelajaran di Industri ( dunia kerja).
      Dalam pembelajaran di sekolah memiliki ciri : pembelajaran program normatif, adaptif, dan produktif. Kurikulum Pendidikan dan pelatihan baik program diklat normatif, adaptif dan produktif dengan pengaturan tersebut dilakukan secara rasional, selaras, dan seimbang.
Pembelajaran di Industri (Dunia Kerja) memiliki ciri operasionalisasi antara lain : peserta diklat    yang memenuhi persyaratan minimal yang telah ditetapkan,   kegiatan pelatihan di Industri dilaksanakan sesuai dengan program bersama yang telah disepakati, lamanya peserta berada di Industri (Prakerin), ditentukan atas dasar waktu latihan yang dipersyaratkan untuk menguasai suatu kompetensi yang akan dipelajari dengan waktu berkisar antara 4 bulan sampai dengan 12 bulan.
Guru di SMK harus mulai mempolakan pembelajaran yang inovatif dan  sudah waktunya guru   memberikan tugas – tugas melalui E-mail bagi siswa di Industri ( Prakerin) yang mempunyai karakterestik pembelajaran sebagai cermin implementasi Teknologi Informasi  karena setelah tamat / lulus dari SMK   sudah tidak ragu lagi (gaptek) dalam mengakses informasi – informasi  global.         
 Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi, menuntut suatu perubahan yang besar di dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan  nasional merupakan pendidikan yang tentunya bukan hanya berkaitan dengan perubahan-perubahan dalam ilmu dan pengetahuan teknologi, namun telah menjadi bagian dunia global yang dikuasai oleh teknologi sehingga pendidikan nasional harus mempunyai “ sense of crisis” untuk menghadapi tantangan tersebut. Secara kondisional para pendidik relatif  banyak yang belum akrab dengan internet padahal program edukasi-net menyuguhkan suatu fasilitas yang sangat mendukung pola-pola   pendidikan kita. Segala kiat-kiat telah  dilakukan pemerintah sebagai perhatian peningkatan kualifikasi  dan penghargaan peningkatan kesejahteraan kepada Guru.
    Pada tahun anggaran 2010  sejumlah pemkab/pemkot di Bali sudah menegaskan komitmennya akan mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen dari total APBD-nya, namun PGRI jangan mudah terlena  dengan wacana tersebut, maka diperlukan kepengawasan  realisasi  anggaran tersebut sehingga PGRI wajib komplain  termasuk menuntut klarifikasi dari pemerintah mengapa anggaran pendidikan tidak sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh Undang- Undang Sisdiknas. 
 Komitmen PGRI  Bali,  agar Pemprov Bali mengalokasikan anggaran yang lebih gemuk guna mendukung program peningkatan kualifikasi guru non-S1/ D4 tampaknya tidak bertepuk tangan sebelah tangan. Hal ini terlihat dari besaran anggaran untuk itu dirancang Rp 4,6 M, disasar 4000 orang guru, dimana setiap guru mendapat jatah  Rp 2 juta. Data saat ini jumlah guru di Bali yang belum berkualifikasi S1/ D4  tercatat  25. 825 orang. Dengan peningkatan jumlah guru yang disasar  hampir dua kali lipat, maka berharap program pengentasan guru- guru yang belum berkualifikasi S1/D4 dengan cepat dapat dituntaskan.
( Balipost, 17 Oktober 2009).   Perhatian pemerintah kepada guru dalam upaya pengembangan diri menguasai TIK bersifat  reliabel dan konsisten demi masa depan anak - cucu kita .
            Kenyataan terkait dengan tunjangan kelangkaan profesi, guru yang sudah sertifikasi lagi muncul namanya dan disisi lain guru yang belum sertifikasi tidak ada nama yang muncul. Jika hal ini tidak disikapi dengan cepat dan tegas maka akan mempengaruhi atau berimbas dengan kinerja guru yang lain. Kemudian nyata kondisi guru yang sudah mendapat tunjangan profesi menurut UU No. 14 tahun 2005, Pasal 14 ayat(1)  dan Pasal 16 ayat (2) menyatakan bahwa Tunjangan profesi guru diberikan setara dengan 1(satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah / pemda pada tingkat masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Kita   tidak menampik bahwa relatif belum ada peningkatan kinerja yang signifikan  bagi guru yang sudah menerima  tunjangan tersebut. Apabila hal ini terjadi berlarut- larut apa akan terjadi   mutu layanan dan peningkatan mutu pendidikan. Mari kita bersama sikapi kondisi yang ada dan bekerja maksimal serta mendekati adil merata.
            Solusi yang terbaik adalah tugas mulia ini kita laksanakan dengan berbasis hati nurani dan tulus ikhlas dalam upaya meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat karena kita tidak akan pernah puas tanpa ada panggilan dari hati nurani yang paling dalam sehingga guru tetap sebagai fasilitator dari anak didik kita.   Guru sebagai pendidik tetap secara holistik ” berperan makna” memerangi kebodohan dan kemiskinan dengan mempolakan pembelajaran yang inovatif berbasis ICT .
Nama : I Wayan Mustika, Guru SMK Negeri 1 Denpasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar